Membaca
sungguh mengasikkan. Hal ini akan dirasakan oleh orang-orang
yang menyukainnya. Namun bagi orang yang memilih cara instan, membaca
merupakan kegiatan yang membosankan. Media telah banyak memanjakan masyarakat
dengan berbagai suguhan yang instan. Suguhan instan ini berupa video dan film.
Masyarakat lebih suka menonton video dari pada membaca, alasannya lebih simpel
dan menyenangkan.
Video
menyajikan gambar dan suara jadi siapa saja yang menyaksikannya akan
mendapatkan gambaran yang benar-benar riil bisa dilihat oleh mata. Hal ini
berbeda dengan membaca, untuk mendapatkan gambaran seting tempat dan kondisi
pembaca membutuhkan konsentrasi agar dapat memfisualisasikan apa yang telah
dibacanya kedalam dunia imajinasi. Pada masa sekarang semua disajikan serba
instan. Tidak hanya makanan dan minuman instan tapi informasi pun disajikan
secara instan yang semakin memanjakan masyarakat kedalam kemalasan
Novel-novel
yang bagus mulai dari jaman dahulu hingga keluaran terbaru, kini ramai di
filmkan. Kecelakaan dan bencana alam banyak diunggah di situs-situs internet.
Masyarakat tidak lagi tertarik untuk membaca dengan alasan “ngapain
repot-repot, filmnya sudah ada”. Membaca novel apalagi novel yang tebal, bagi
sebagian orang melihatnya saja sudah lelah apalagi membacannya “buku segitu
tebalnya kapan kelarnya, bisa-bisa jadi kutu buku”. Padahal kebanyakan novel yang difilmkan itu
lebih bagus novelnya dari pada filmnya.
Novel
benar-benar menyajikan seting yang komplek. Bayangkan novel yang berjumlah
limaratus halaman difilmkan hanya dalam durasi waktu satu jam sampai satu jam
setengah. Sepetinya kurang berkesan dan ingatan tentang film ini pun tidak akan
bertahan lama berbeda dengan membaca. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh psikiater saraf dari Mayo Cinic
Amerika Serikat, membaca akan menguatkan memori dalam otak untuk mencegah pikun
sehingga akan tetap terjaga. Contoh lain yang sedang ramai diperbincangkan adalah
tragedi Tugu Tani Jakarta. Banyak orang memilih untuk membuka Youtube dari pada
membaca Koran. Hal ini diperkuat dengan jumlah pengunjung yang sampai sekarang
telah mencapai 54.457. Cara mempercantik diri dan memasakpun sekarang tersedia
dalam bentuk video. Hal ini baik karena menunjukkan ada inovasi baru dalam
dunia informasi, namun yang sangat
disayangkan masyarakat menjadi kecanduan dan bergeser memilih sajian
instan. Tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi membawa dampak positif dan
negatif. Namun sebagai manusia yang diciptakan dengan akal pikiran sebisannya
menimbang untung dan ruginya.
Membaca
merupakan olah raga otak. Dengan membaca pikiran kita menjadi aktif dan hidup.
Berbeda dengan hanya menyaksikan video, tinggal menyaksikkan otak cenderung pasif. Jadi mari kita hidupkan semua organ tubuh
dengan membaca. Salah satu kesuksesan membaca, pertama adalah dapat
memfisualisasikan bacaan kedalam alam pikiran sehingga memposisikan pembaca
seolah-olah berada dalam dunia yang sedang dibacannya. Kedua mampu berdiskusi
dengan penulis buku dalam pikiran sehingga timbul bantahan, persetujuan dan
reaksi yang lain.
Mencintai
membaca tidak harus setiap waktu membaca. Kita harus bisa memilah waktu dan
tempat yang tepat untuk membaca. Di negara-negara maju akan sangat mudah
menemukan orang membaca, seperti Jepang.
Budaya membaca di Jepang memang telah berhasil bagi semua kalangan. Di
Negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia budaya membaca hanya dimiliki oleh
sebagian kalangan mengah keatas. Untuk golongan bawah hanya sedikit saja yaitu
hanya orang-orang yang benar-benar memiliki keinginan kuat untuk maju. Bagi
sebagian yang lain waktu, pikiran dan tenaga tercurah semua pada bagaimana
memenuhi kebutuhan perut.
Di negara
seperti Jepang orang membaca bisa ditemui di dalam kereta, restoran, ruang
tunggu, toilet dan tempat-tempat yang lain yang memungkinkan untuk membaca.
Untuk menciptakan budaya membaca kita tidak harus seperti orang Jepang. Budaya
membaca seperti itu memang bagus utuk kemajuan SDM namun yang perlu diwaspadai
adalah timbulnya sikap individualism. Salah satu dampak negatif dari membaca
yang berlebih adalah seolah-olah mempunyai dunia sendiri yang terpisah dari
dunia sekelilingnya. Untuk hal inilah diatas ditulis bahwa membaca harus
ditempat yang tepat.
Pemilihan
waktu yang tepat dipilih agar interaksi dengan lingkungan tetap terjaga.
Misalnya saja ketika antri di bank dilakukan dengan membaca. Hal ini kurang
tepat dilakukan karena membaca memerlukan konsentrasi agar apa yang telah
dibaca masuk dan didiskusikan dalam otak. Membaca ditempat seperti ini bisa
saja memutus komunikasi dengan dunia sekelilingnya, siapa tahu didepan,
disamping atau tempat yang dekat dengan kita ada orang yang kita kenal maka
ketika kita menggunakan waktu ini untuk membaca bisa-bisa kita kehilangan
moment yang special dan telah diajarkan pula oleh agama bahwa kita senantiasa
harus menjaga tali silaturahmi. Selain orang yang kita kenal ditempat-tempat
umum seperti ini merupakan waktu untuk berinteraksi sehingga bisa menambah teman
dan bahkan informasi baru. Semua kejadian dan situasi tidaklah sia-sia, semua
pasti ada maksud dan tujuannya.
Boleh-
boleh saja membaca ditempat umum dan dimanapun tempatnya namun harus
dipertimbangkan adalah lingkungan sekelilingnya. Jika keadaan memungkinkan maka
membacalah untuk mengisi waktu namun jika ada orang yang bisa diajak komunikasi
maka pilihlah untuk berinteraksi dengannya. Jangan sampai karena hobi membaca
yang tidak tepat membuat kita kurang bergaul dengan manusia lainnya. Bergaul
dengan banyak orang akan sangat bermanfaat, membuka wawasan, mengenal banyak
karakter, membuka inspirasi, terjadinya jaringan kerja sama yang baik. Apalagi
bergaul dengan modal hobi membaca makan akan pandai menemukan topik pembicaraan
yang menyenangkan dengan tetap memiliki bobot pengetahuan. Hal ini karena
dukungan membaca memberikan kita banyak kosa kata sehingga mudah untuk memilih
kata untuk percakapan yang menyenangkan.
Berdasarkan
pengalaman pribadi, saat itu hari jumat saya pergi ke salah satu kota dengan
suami. Pada saat ibadah shalat jumat kami masih diperjalanan sehingga kami
berhenti di salah satu masjid yang melaksanakannya. Saya memilih untuk menunggu
di halaman depan masjid, disitu juga ada ibu-ibu yang sedang menunggu suaminya.
Sebenarnya dalam tas saya ada buku yang bisa saya baca namun saya memilih untuk
berkenalan dengan salah senorang ibu. Singkat cerita ibu ini juga dalam
perjalan pulang dari salah satu pondok terkenal. Beliau ingin anaknya
melanjutkan pendidikan anaknya dipondok namun anaknya kurang begitu tertarik.
Akhirnya saya rekomendasikan untuk membaca sebuah novel yang terinspirasi dari
kisah nyata kehidupan seorang anak yang diminta oleh ibunya untuk sekolah
dipondok. Novel ini menceritakan lingkungan, proses pendidikan, guru dan
seluruh komponen yang ada dipondok sampai pada akhirnya kesuksesan yang
diperoleh. Ibu itu sangat berminat untuk membeli buku yang saya rekomendasikan
agar anaknya termotivasi. Dalam hati saya bersyukur, ini semua karena membaca.
Cerita ini berkaitan dengan manfaat membaca yang dapat meningkatkan kepercayaan
diri.
Masih
banyak tempat dan waktu yang tepat untuk membaca sehingga harus pandai-pandai
membagi dan meluangkan untuk membaca yang efektif. Membaca tidak harus
buku-buku bacaan yang berat namun harus didasari karena ingin membacanya.
Artinya buku yang akan dibaca harus dicintai terlebih dahulu. Jangan sampai
karena ingin dianggap keren dan pintar memaksakan membaca buku yang isinnya
berat. Hal ini hanya akan merugikan diri sendiri. Pilih buku bacaan yang
benar-benar ingin dibaca karena anda menyukainya dan rasakan hasilnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar