Diberdayakan oleh Blogger.

Latest Post

Pemimpin Redaksi Tabloid Seputar Ponorogo

Written By Kang Tarmin on Kamis, 21 Juni 2012 | 01.55


Dilahirkan 1 Januari 2012, dan divisualisasikan pada penerbitan edisi pertama (3 – 9 Januari 2012), Tabloid Seputar Ponorogo berhasil bersanding di relung hati. Merengsek ke dalam, jauh menghipnotik pembaca.

“Media Top Markotop,” kata salah satu pembaca yang mengapresiasi kemunculan media baru ini di Ponorogo. Belum lagi, apresiasi positif dari lainnya entah melalui via face to face, telepon atau sms. Kesalutan-kesalutan ini muncul, lebih mengarah kepada performa menu suguhan rubrikasi dan kandungan beritanya. Mampu ditulis dengan apik mengedepankan kaidah-kaidah jurnalistik yang ada. “Beda dengan lainnya”, begitu salah satu tanggapan dari pembaca lainnya.

Rubrikasi Seputar Ponorogo memang memiliki rasa khas. Sisi konfrontatif lebih diminimalisir untuk membedakan dengan media yang ada lainnya. Namun, lebih mengarah pada motivasi dan prestasi maju untuk semua elemen masyarakat Ponorogo. “Membangun budaya maju Bumi Reyog Ponorogo” adalah tujuan kami.

Ambil misal, ada rubrik: top figure, refleksi, kuliner, potensi, potret kampungku, opini, dan sekolah kita. Kesemuanya rubrik di atas lebih mengarah pada bingkai bercermin, mencari benang merah bagi kebaikan semua.

Pemaparannya, untuk rubrik top figure merupakan satu kesatuan utuh untuk tempat bercermin masyarakat kepada orang-orang sukses berprestasi dari berbagai sudut pandang. Sebaliknya, di rubrik refleksi adalah kumpulan dari orang-orang yang tereliminasi, namun tetap mempunyai rasa berlebih.

Selanjutnya, pembaca juga disuguhi menu rubrik kuliner, di mana menyuguhkan berbagai jenis usaha kuliner sukses yang jadi alternatif lidah semua orang. Didukung kuat trik-trik jitu dari seorang pengusahanya untuk berbagi. Rubrik potensi, visualisasi pembaca akan diarahkan pada aset-aset kepemilikan daerah Ponorogo. Mulai dari bidang wisata sampai industri. Tujuannya, ingin memunculkan etos lebih memajukan dan memberdayakan dari aset ini.

Berlanjut pada rubrik potret kampungku, memunculkan menu-menu spesial kampung-kampung yang memiliki keunikan dan potensi. Dimaksudkan untuk memberikan referensi bagi lainnya. Sedangkan, rubrik sekolah kita sebagai wahana mengekplorasi berbagai langkah kreatif, inovatif dan inspiratif sekolah-sekolah yang ada.

Terakhir adalah rubrik opini ataupun sastra yang khusus dihadirkan bagi pembaca. Menampung berbagai kiriman tulisan untuk memberikan ruang apresiasi meningkatkan budaya tulis baca menuju masyarakat cerdas.

Rubrikasi tersebut diiringi dengan teknik-teknik kepenulisan profesional yang mengacu kuat pada kaidah jurnalistik. Karena hadir sebagai media mingguan, maka suguhan beritanya lebih mengarah ke arah teknik investigasi dan feature. Mengekplorasi secara utuh.

Mungkin, ini sisi pembeda Tabloid Seputar Ponorogo dengan lainnya. Apresiasi yang mengerucut pada kepercayaan bakal kita tindaklanjuti dengan sistem open manajemen. Saran dan kritik dari semua pihak akan kita jadikan senjata untuk berbuat lebih baik lagi. (*)

Makanan Sehat + Enak + Murah Meriah


Inilah Nasi Pecel Ponorogo. Makanan ini dapat anda jumpai hampir disepanjang jalan di Ponorogo. Ada yang khas untuk Nasi Pecel asli Ponorogo Ini.
Sambal kacangnya terasa sangat Berbeda dengan nasi pecel dari daerah – daerah laini.Jika anda gemar menikmati Nasi pecel, silahkan mampir untuk mencicipi Bebanya Nasi Pecel Khas Ponorogo Ini.

Sate Ayam Ponorogo


Selain Reog, kota Ponorogo juga memiliki ke khasannya yang lain, yang sudah terkenal di seluruh Indonesia, yakni Sate nya. Ya sate ponorogo sudah banyak menyebar di seluruh kota-kota besar di Inonesia.
Jika kita ke kota Ponorogo cobalah mampir ke warung sate  ayam Ponorogo Pak H. Tukri Sobikun.
Di sana ada satu yang menarik, yakni para pembelinya bisa memilih sendiri bagian ayam nya, paha atau dada.
Dan setiap tusuk satenya adlah daging ayamnya yang utuh, bukan berupa potongan-potongan kecil yang biasa kita makan sate ayam.

Dawet Jabung.


Jika sudah mencicipi kenikmatan sate ayam Ponorogo, sebenarnya kurang lengkap jika belum dawet khas Ponorogo yang dikenal dengan sebutan dawet jabung. Disebut demikian karena minuman khas ini berasal dari desa Jabung kecamatan Mlarak yang merupakan sentra penjual dawet Jabung.
Kemahsyuran dawet Jabung ini memang sudah menjalar kemana-mana. Didesa Jabung, khususnya disepanjang jalan antara Ponorogo-Jetis, deretan warung dawet Jabung selalu ramai oleh pembeli, mulai pejalan kaki sampai mobil mercy, apalagi lokasinya tak seberapa jauh dengan lokasi pondok modern darusalam Gontor yang terkenal itu.
Dawet jabung mempunyai rasa yang amat khas dan cara penyajian yang unik, bahkan tak ada duanya diIndonesia. Harganya pun juga murah.
Konon kemahsyuran dawet Jabung berkaitan erat dengan legenda warok Suromenggolo, yang terkenal sakti mandraguna dan merupakan tangan kanan R. Bhetoro katong.
Diceritakan, suatu hari Warok Suromenggolo terlibat perang tanding melawan Jim Klenting Mungil yang menguasai gunung Dloka dan mempunyai pusaka andalan yaitu Aji dawet upas. Konon, ajian ini berbentuk cendol dawet yang terbuat dari mata manusia. Terkena ajian dawet upas seketika tubuh warok Suromenggolo menderita luka bakar dan ia pingsan seketika.
Warok Suromenggolo akhirnya ditolong oleh seseorang pengembala sapi bernama Ki jabung. Setelah diguyur dawet buatan Ki Jabung, seketika luka yang diderita Warok Suromenggolo sembuh, bahkan dapat mengalahkan Jim Klenting Mungil dan Jim Gento. Sebagai ungkapan terima kasih, Warok Suromenggolo bersabda, kelak masyarakat desa Jabung akan hidup makmur karena berjualan dawet.
Kini hampir seluruh warga desa Jabung berjualan dawet. walaupun hanya warung dawet sederhana, namun rata-rata kehidupan mereka berkecukupan. apakah hal ini berkat sabda Warok Suromenggolo? Sumanggo kerso……..
Sumber : Buku “Mengenal potensi dan dinamika Ponorogo” 1993 

Potret Kampungku Sidowayah, Oh... Sidowayah

Sudah Gizi Buruk, Masih Nikah Siri
Mata dan hati ini terasa tidak percaya, saat Seputar Ponorogo melongok lebih dekat dari wajah cantik Dusun Sidowayah, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon. Sungguh mengagetkan, ketika keterkejutan kita belum habis dengan banyaknya warga Dusun Sidowayah yang menderita gizi buruk. Masih ditambah lagi dengan penemuan fenomena mengerikan, yaitu besarnya angka pernikahan siri di sana.

Perjalanan menuju Dusun Sidowayah dari pusat Kota Ponorogo, kira-kira jarak tempuhnya 30-an km. Dusun yang indah, namun menyimpan banyak misteri. 

Masih dekat diingatan kita, sekitar setahun yang lalu dusun ini menjadi perbincangan besar skala nasional dan internasional. Yaitu, dengan penemuan banyaknya jumlah penduduk yang menderita gangguan gizi buruk, atau -maaf, lebih dikenal dengan sebutan –“kampung idiot”.

Dan berimbas pada deras mengucurnya bantuan-bantuan dari berbagai pihak yang merasa simpatik dan empatik. Baik dari lokal, regional, nasional hingga internasional. 

Nikah Siri
Keprihatinan, ternyata belum tuntas dengan hanya menyandang embel-embel sebagai salah satu kampung idiot. Dari pengamatan yang didapat, desa indah tersebut diperparah dengan catatan buruk lagi, yaitu besarnya angka pernikahan siri. 

Mungkin di Kabupaten Ponorogo, tercatat sebagai yang terbesar. Jumlahnya mencapai puluhan pasangan dalam satu desa. Tertinggi, di Dusun Sidowayah, selain tersebar di dua dusun lain, yaitu: Wonopuro dan Nopuro. Angka pernikahan siri hampir menembus angka 50-an dari jumlah penduduk Sidoharjo 1600-an. 

Tingginya angka pernikahan siri di Dusun Sidowayah, dari dugaan Sekretaris Kecamatan Jambon Mardiyanto, penyebabnya adalah: pertama, lokasi wilayah Dusun Sidowayah, Wonopuro dan Nopuro yang cukup terpencil, “Sehingga masyarakat ketiga dusun merasa enggan untuk mengurus masalah pernikahannya ke Kantor Desa Sidoharjo. Kedua, lantaran yang menikah siri itu kebanyakan warga pendatang dari luar Desa Sidoharjo”, jelasnya.   

Hal senada, diungkapkan oleh Parnu Kepala Desa Sidoharjo, bahwa tingginya angka pernikahan siri itu, selain dikarenakan lokasi wilayah ketiga dusun yang terpencil, juga adalah faktor ekonomi. 

Sehingga, banyak warga di ketiga dusun tersebut, bepergian untuk mengadu nasib ke luar Jawa. “Ketika mereka di perantauan rumah tangganya berantakan dan bercerai, mereka enggan mengurus surat cerainya, karena lokasinya jauh di luar Jawa. Dan, saat mereka nikah lagi di kampung halamannya Desa Sidoharjo, lebih memilih menikah secara siri”. Bebernya.  

Masih dari keterangan Parnui, katanya dari data kasar yang dimiliki saat ini, bahwa di ketiga dusun tersebut,  ada sekitar 30 kepala keluarga yang menikah siri, “Jika di rata-rata tiap dusun ada sekitar 10 KK yang menikah Siri, tetapi yang paling banyak benar di Dusun Sidowayah”, tambahnya.

Oleh sebab itu, melihat masih banyaknya warga Desa Sidoharjo yang menikah Siri, Parnu bersama-sama dengan pihak Kecamatan Jambon akan berusaha untuk melakukan koordinasi dengan Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo agar bisa dilaksanakan nikah masal. “Biayanya murah, syukur malah gratis”, harapnya. 

Infrastruktur Minim
Seperti dikatakan Mardianto dan Parnu di atas, salah satu alasan maraknya nikah siri adalah ketiga dusun tersebut masuk dalam ketegori daerah terpencil.

Yang jelas, tanpa didukung dengan infrastruktur yang memadai. “Memang terbilang sudah ada perbaikan jalan, namun hal itu dinilai belum merata,” kata Parnu.

Terbilang, akses jalan penghubung di Desa Sidoharjo sulit. Dan diyakini, masih tertinggal jauh dengan desa-desa lain di sekitarnya.

Maka, harap lebih mendalam lagi dari Parnu untuk menanggulangi melonjaknya nikah siri di Desa Sidoharjo, akses jalan yang baik harus diadakan. (Andre Prisna/Maulana Malik)


Mbah Kusnan, Pengrajin Gamelan Memulai dengan Hobi dan Cinta


Kusnan, atau lebih akrab dipanggil Mbah Kusnan, seorang lelaki pecinta gemelan yang telah berumur. Rautnya sendu, keramahan jelas terpancar dari setiap ejaan sapaannya. Tatapan mata tajam, namun tak sedikitpun mengisyaratkan kesombongan. Di sela bicaranya, tawa renyah menghias, seakan tak habis kebanggaan dengan masa tuanya.

Sebagai seorang seniman yang masih mempertahankan kesenian nusantara, yakni gamelan asli dari Jawa Timur, sepantasnyalah Kusnan bangga serta merasa hidupnya tak sia-sia. Berangkat dari hobi dan kecintaan terhadap gamelan, membuat Kusnan tak merasa jenuh jika setiap hari harus bergumul dengan seperangkat alat musik Jawa tersebut.

Hobi
Gamelan yang telah menyatu dengan dirinya itu ditekuni mulai tahun 1963.  Pada waktu itu Kusna masih duduk di bangku SMP, saking cintanya Kusnan sangat tekun dan getol bekerja dan mempelajari alat kesenian itu.  Upaya tekun dan rajinnya berbuah manis, sehingga pada tahun 1980, dengan semua keahlian dan hobi yang dimiliki, Kusnan mampu mandiri. Yakni, mendirikan rumah di wilayah Paju Ponorogo. Alat gamelan buatan Kusnan diberi nama  Ponorwirogo, yang berarti dari Ponorogo.

Untuk saat ini, satu set gamelan pelog-slendro dapat diselesaikan dalam jangka waktu 20 hari. Mbah Kusnan, dibantu 5 orang pekerjanya. “Jika kita mngerjakan dengan rasa cinta semua akan mudah,” tandasnya. Kusnan selalu memberi motivasi pada pekerjanya, bahwa sesuatu yang dilakukan ini semata-mata karena rasa peduli terhadap kesenian lokal.

Satu set gamelan terdiri dari banyak jenis, seperti diantaranya Gong Barong, Gong Penerus, Gong Kenong, Gong Kempul, Gong Saron Peking, Slentem, Gender Gambang, Kendang dan masih banyak lagi. Menurut Kusnan, jenis gamelan yang paling sulit dilakukan adalah jenis Gong Gede. Lantaran, ukuran yang besar saja, sehingga harus membutuhkan waktu 3 hari lamanya.

Menurut Kusnan seorang pembuat gamelan tidak perlu keahlian khusus. Yang lebih dibutuhkan sebenarnya adalah cinta dan kesadaran akan kesenian lokal. “Yang butuh keahlian itu hanya waktu penyetelan suara saja. Kalau pembuatannya tidak perlu,” Tuturnya.

Penjualan Kusnan tidak terbatas dalam kota saja, namun juga luar kota, bahkan seluruh Indonesia. Hal ini juga dapat dibanggakan sebagai prestasi nomor satu. Kusnan membedakan gamelan buatannya menjadi 2, yakni jenis besi dan jenis kuningan. Jenis besi per satu set dijual dengan harga Rp. 40 juta. Dan yang terbuat dari kuningan Rp. 150 juta.

“Kalau yang kuningan anti karat jelas usianya pun berbeda., jadi lebih mahal. Tapi untuk suara sama saja, penyetelannya juga sama.” Ulasnya. Dalam 1 tahun minimal Kusnan dapat menjual 6 set gamelan, itu bisa dikatakan paling sepi. Dalam hal produksi permodalan, ia tidak perlu khawatir karena telah dibantu oleh pihak perbankkan, jadi untuk pengadaan bahan selama ini Kusnan tak perlu cemas.

Prestasi
Pada tahun 1991, Kusnan pernah mendapat penghargaan dari SMITHSONIAN INSTITUTION OFFICE FOLKLIFE PROGRAMS Amerika. Dalam acara yang bertajuk, Festifal Kesenian Daerah. Ia diundang ke Amerika selama 1 bulan. Penghargaan itu diberikan atas partisipasinya dalam menjaga dan melestarikan alat musik kesenian daerah.

Kusnan bercerita, dia merasa bangga selama satu bulan di sana, karena perhatian terhadap kesenian daerah sangat tinggi. “Rasanya berbeda dengan di Indonesia,” katanya. Bahkan pihak Smithsonian Institution berpesan langsung pada Kusnan, bahwa kesenian gamelan harus dijaga dan dilestarikan. Jika dari indonesia tidak melakukan hal itu, maka gamelan akan dibawa dan dilestarikan di Amerika.

Di penghujung perbincangan, Kusnan berpesan kepada generasi muda untuk tidak melupakan seni budaya sendiri, khususnya gemalan. Menurutnya, memupuk rasa cinta untuk kesenian lokal sagat penting. “Jangan kalah dengan Amerika, karena di sana gamelan juga salah satu pelajaran sekolah,” pintanya penuh harapan. (Muhammad Budi)

Rica-rica Menthok Sampung Pedasnya Melambai Lidah


Pertama kali menikamati pedasnya akan terasa menggerayagi seluruh tenggorokan. Namun tidak untuk yang kedua kali, keempat dan seterusnya. Itu mustahil, karena campuran cabai, bumbu merica, serta potongan daging Menthok ini sangat menggugah selera, membuat ketagihan dan setelah makan tinggalan pedas akan membuat badan terasa enteng. Kenikmatan yang demikian akan membuat siapa saja tergoda mencicipinya sebagai menu pedas, namun selalu melambai lidah. 

Sesuap pertama memang membuat mulut terasa panas, namun jangan ditanyakan sertaan nikmatnya untuk sendok kedua dan ketiga. Saran bagi yang tak tahan dengan pedas boleh memandangi saja namun jangan menyalahkan jika mencium aromanya, dan tampilannya membuat liur tak kuat menahan goda. Rica-rica menthok telah menjadi alternatif bagi mereka penikmat pedas.

Pertama di Ponorogo
Masih termasuk dalam jajaran kuliner Ponorogo yang baru. Namun Rica-rica Menthok telah berhasil dikenang sebagai kuliner pedas Ponorogo. Suguhan milik Kecamatan Sampung, tepatnya di Desa Dasun. Dari situlah berawal makanan yang pedasnya terkenal ini digemari masyarakat. “Saya cari yang di Ponorogo belum ada, ya saya pilih rica-rica menthok, kan kalo rica-rica ayam sudah cukup banyak di mana-mana,” ungkap Win salah satu pemilik warung Rica-rica Menthok di kawasan Desa Dasun.

Sudah 6 tahun Win setia mengembangkan usahanya. Masakan yang merupakan hasil olahan kreatif tangannya sendiri ternyata banyak digandrungi para penikmat kuliner. Menurutnya memang bukan sesuatu yang mudah untuk membuat makanan yang menggugah selera orang banyak.  Bahkan, terkadang beberapa orang mengeluh karena masakannya di rumah tak bisa menggugah selera.

Win mengaku selama 6 tahun ini pula dia selalu menggunakan bumbu dapur asli dengan racikan dan cara pengolahan alami. Namun dalam hal ini Win enggan menyebutkan bumbu-bumbu yang harus dipakai. “Ya biasanya seseorang itu akan mempunyai cita rasa sendiri untuk masakannya, agar rasanya tidak sama dengan olahan orang lain. Selain itu agar terjaga untuk tetap digemari.” Tandasnya.

Sebagai Makan Pilihan
Tepat sekali jika pedasnya dinikmati bersama rintik hujan sore, atau angin sepoi semilir. Terasa campuran pedas serta adem menjadi perpaduan menu Rica-rica Menthok. Tak heran jika pengunjung selalu menyempatkan diri menikmatinya. Bukan hanya dari Ponorogo namun juga dari luar kota.

Tak perlu membuka dompet terlalu lebar, cukup menyelipkan 8 ribu rupiah saja sudah mengenyangkan perut dan mengentengkan badan.  Murah meriah harga seporsi serasa tak mampu membeli kenikmatannya. Itu juga bukan jumlah yang sepadan dibanding dengan gurih dan lezatnya. “Pedas dan nikmat. Saya sudah berkali-kali mampir. Rasanya itu berbeda” tandas seorang pelanggan yang sedang menikmati hidangan Win.

Banyak mahasiswa dan orang besar yang mampir, mereka rata-rata dari Surabaya, Solo, Semarang, maupun Jogjakarta. Singgah Ponorogo dan singgah sebentar untuk makan membuktikan keistimewaannya. “Dari luar kota banyak sekali, ada yang mampir, memang sengaja datang, ada yang sangat penasaran, ada juga yang hanya pesan lantas dibawa pulang,” ungkap Win.

Ketika ditanya perihal ramuan yang dipakai agar pembeli senantiasa datang, Win tersenyum. Tidak menggunakan ramuan apa-apa, atau jampi apapun, hanya saja Win selalu menyuguhkan yang paling enak yang dia bisa serta menjaga kenyamanan pelanggan atau pembeli. Kenyamanan berupa keramahan atau sapa aruh, itu menurut Win penting apalagi dia tinggal di Desa. Selain itu adalah kenyamanan tempat, yakni tempat yang bersih dan santai.

Untuk hal usaha yang demikian Win juga berharap. Agar para pemuda khususnya mampu menciptakan kreatifitasnya. Berupa apa saja, agar menjadi pemuda yang berguna dan mempunyai keahlian. Selain itu Win menyarankan bagi para pemuda yang ingin usaha dalam kuliner untuk mencoba mencari terobosan baru. Seperti halnya Rica-rica Menthok. (maulana malik)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Tabloid Seputar Ponorogo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger