Pertama
kali menikamati pedasnya akan terasa menggerayagi seluruh tenggorokan. Namun
tidak untuk yang kedua kali, keempat dan seterusnya. Itu mustahil, karena
campuran cabai, bumbu merica, serta potongan daging Menthok ini sangat
menggugah selera, membuat ketagihan dan setelah makan tinggalan pedas akan
membuat badan terasa enteng. Kenikmatan yang demikian akan membuat siapa saja
tergoda mencicipinya sebagai menu pedas, namun selalu melambai lidah.
Sesuap
pertama memang membuat mulut terasa panas, namun jangan ditanyakan sertaan
nikmatnya untuk sendok kedua dan ketiga. Saran bagi yang tak tahan dengan pedas
boleh memandangi saja namun jangan menyalahkan jika mencium aromanya, dan
tampilannya membuat liur tak kuat menahan goda. Rica-rica menthok telah menjadi
alternatif bagi mereka penikmat pedas.
Pertama di
Ponorogo
Masih
termasuk dalam jajaran kuliner Ponorogo yang baru. Namun Rica-rica Menthok
telah berhasil dikenang sebagai kuliner pedas Ponorogo. Suguhan milik Kecamatan
Sampung, tepatnya di Desa Dasun. Dari situlah berawal makanan yang pedasnya
terkenal ini digemari masyarakat. “Saya cari yang di Ponorogo belum ada, ya
saya pilih rica-rica menthok, kan kalo rica-rica ayam sudah cukup banyak di
mana-mana,” ungkap Win salah satu pemilik warung Rica-rica Menthok di kawasan
Desa Dasun.
Sudah 6
tahun Win setia mengembangkan usahanya. Masakan yang merupakan hasil olahan
kreatif tangannya sendiri ternyata banyak digandrungi para penikmat kuliner.
Menurutnya memang bukan sesuatu yang mudah untuk membuat makanan yang menggugah
selera orang banyak. Bahkan, terkadang
beberapa orang mengeluh karena masakannya di rumah tak bisa menggugah selera.
Win mengaku
selama 6 tahun ini pula dia selalu menggunakan bumbu dapur asli dengan racikan
dan cara pengolahan alami. Namun dalam hal ini Win enggan menyebutkan
bumbu-bumbu yang harus dipakai. “Ya biasanya seseorang itu akan mempunyai cita
rasa sendiri untuk masakannya, agar rasanya tidak sama dengan olahan orang
lain. Selain itu agar terjaga untuk tetap digemari.” Tandasnya.
Sebagai
Makan Pilihan
Tepat
sekali jika pedasnya dinikmati bersama rintik hujan sore, atau angin sepoi
semilir. Terasa campuran pedas serta adem menjadi perpaduan menu Rica-rica
Menthok. Tak heran jika pengunjung selalu menyempatkan diri menikmatinya. Bukan
hanya dari Ponorogo namun juga dari luar kota.
Tak perlu
membuka dompet terlalu lebar, cukup menyelipkan 8 ribu rupiah saja sudah
mengenyangkan perut dan mengentengkan badan.
Murah meriah harga seporsi serasa tak mampu membeli kenikmatannya. Itu
juga bukan jumlah yang sepadan dibanding dengan gurih dan lezatnya. “Pedas dan
nikmat. Saya sudah berkali-kali mampir. Rasanya itu berbeda” tandas seorang
pelanggan yang sedang menikmati hidangan Win.
Banyak
mahasiswa dan orang besar yang mampir, mereka rata-rata dari Surabaya, Solo,
Semarang, maupun Jogjakarta. Singgah Ponorogo dan singgah sebentar untuk makan
membuktikan keistimewaannya. “Dari luar kota banyak sekali, ada yang mampir,
memang sengaja datang, ada yang sangat penasaran, ada juga yang hanya pesan
lantas dibawa pulang,” ungkap Win.
Ketika
ditanya perihal ramuan yang dipakai agar pembeli senantiasa datang, Win
tersenyum. Tidak menggunakan ramuan apa-apa, atau jampi apapun, hanya saja Win
selalu menyuguhkan yang paling enak yang dia bisa serta menjaga kenyamanan
pelanggan atau pembeli. Kenyamanan berupa keramahan atau sapa aruh, itu menurut
Win penting apalagi dia tinggal di Desa. Selain itu adalah kenyamanan tempat,
yakni tempat yang bersih dan santai.
Untuk hal
usaha yang demikian Win juga berharap. Agar para pemuda khususnya mampu
menciptakan kreatifitasnya. Berupa apa saja, agar menjadi pemuda yang berguna
dan mempunyai keahlian. Selain itu Win menyarankan bagi para pemuda yang ingin
usaha dalam kuliner untuk mencoba mencari terobosan baru. Seperti halnya
Rica-rica Menthok. (maulana malik)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar