Bukan hanya
menawan rupanya, namun juga cantik khasiatnya. Selain itu yang paling juara
adalah nikmat rasa dari cucuran airnya. Sehingga, Buah Naga masih tetap menjadi
buah favorit. Walaupun terbilang selangit harganya, namun juga selangit, rasa,
aroma, dan khasiatnya.
Buah Naga
memiliki ciri khas berwarna merah, biasanya sering dikonsumsi dalam bentuk buah
segar. Tepat sekali, andai buah ini dipilih sebagai buah pelepas dahaga. Karena
buah Naga mengandung kadar air tinggi sekitar 90 persen dari berat buah. Namun
dalam kemajuan zaman seperti ini jangan salah, Buah Naga acapkali dikonsumsi
dalam bentuk juice, sari buah, manisan, serta selai. Ataupun dengan kekreatifan
sendiri bisa dibuat apa saja sesuai selera. Demikianlah, maka bukan sesuatu
yang mengherankan jika buah Naga sangat banyak penggemarnya.
Harta Karun
Buah
sebesar kepalan dua tangan ini, ternyata menyimpan segudang kekayaan. Harta
karun yang tak ternilai untuk kesehatan. Buah Naga dapat menyeimbangkan kadar
gula darah, pelindung kesehatan mulut, pencegah kanker usus, mengurangi
kolesterol, pencegah pendarahan dan mengobati keluhan keputihan.
Selain itu
buah ini banyak mengandung protein yang mampu meningkatkan metabolisme tubuh.
Juga mengandung zat besi untuk menambah darah. Vitamin B1 untuk mencegah demam.
Bagi anak-anak pas untuk menambah selera makan, karena mengandung vitamin B2.
Ada lagi, kandungan vitamin B3 untuk menurunkan kadar kolesterol, serta Vitamin
C barmanfaat untuk menambah kelicinan, kehalusan kulit dan jerawat.Semua
kandungan itu adalah harta karun bagi beberapa orang yang senang
mengkonsumsinya. Jadi lengkap, kecantikan luarnya didukung khasiat dalamnya.
Budidaya
Melihat
khasiat yang sangat mencegangkan itu, ternyata di Ponorogo tak perlu mencarinya
jauh-jauh. Potensi perkebunan Buah Naga telah dirintis di Kecamatan Sooko.
Salah satu perintis budidaya ini yaitu Jumadi, petani setempat. “Saat itu tahun
2005 di Ponorogo belum ada yang membudidayakan Naga, saya mencoba ide dari
teman yang ada di Kediri,” tutur ceritanya mengawali.
Budidaya
berkembang kepada para tetangga. Walhasil, di Sooko banyak sekali petani yang
berpindah menanam Buah Naga. Modal yang digunakan memang cenderung tinggi.
Cerita dalam Jumadi, dulu ia membudidayakan buah naga dengan modal awal Rp. 25
juta. Bukan jumlah yang sedikit bagi kalangan kaum petani di Ponorogo. “Ini
nilai tinggi, tidak sedikit petani yang mau turut membudidayakan, tapi takut
dulu akan permodalan,” tandasnya.
Namun, di
sisi lain Buah Naga sangat mudah perawatannya. Tidak banyak menguras waktu dan
tenaga. Kendala yang dihadapi hanya binatang Bekicot pada saat tanam, dan
Burung pada masa panen. Jumlah modal yang besar dirasa tak seberapa, jika
dibanding dengan harga jual yang fantastis dan banyaknya permintaan pasar.
Memang
untuk menghasilkan buah yang baik dan segar harus dijaga pemupukannya. Ini pun
tak harus banyak mengeluarkan uang, karena pupuk kandang ternyata lebih
berperan baik. “Saya menggunakan pupuk alami (pupuk kandang), malah subur dan
segar buahnya,” tutur Jumadi. Budidaya Naga menjadi potensi yang menjanjikan.
Bahkan untuk menguasai pasar konsumen akan sangat mudah, hal ini juga
disebabkan oleh sedikitnya budidaya buah tersebut.
Penjualan
Harga Rp.
20 ribu per kilo laris manis di pasaran. Bahkan Jumadi tak perlu bersusah payah
membawa ke pengepul. “Saya cukup menanti di rumah, para penikmat buah sudah
datang sendiri menyerbu,” ungkap Jumadi. Dengan cara sederhana tanpa promosi
ini saja, Jumadi mampu menjual habis Buah Naganya sekali panen. Bahkan ia
mengaku tidak pernah punya stok, malah yang seringkali terjadi adalah
kekurangan untuk memenuhi pesanan dan pembeli.
Modal yang
harus disediakan diawal memang banyak, namun penghasilan pun akan setara dengan
apa yang sudah dikeluarkan. Dicontohkan Jumadi dari kebun miliknya yang hanya
ada 200 pancang (pohon), penghasilannya cukup menggiurkan. Karena setiap
pohonnya dapat menghasilkan hingga 10 kg. Tinggal menghitung saja berapa banyak
pendapatan bakal diterima Jumadi setiap panenan, yakni antara bulan Desember
hingga Mei.
Usia pohan
Naga pun sangat panjang, tentu akan menambah oplah. Karena tak harus 2 atau 3
tahun sekali memperbarui bibit. Pohon Naga bisa berusia dan berbuah sampai 25
tahun. Tak perlu waktu panjang sudah dapat mengembalikan modal.
Memprihatinkan
di Ponorogo, terlihat para petani kepentok modal untuk memulai budidaya buah
yang berkhasiat bagi kesehatan tersebut. Hal itu lantas menjadi secercah
harapan Jumadi, perlunya uluran tangan dari pihak pemerintah. Karena ia yakin,
secara umum akan membangun tingkat pertumbuhan ekonomi di Ponorogo. (maulana
malik)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar